Selasa, 04 Oktober 2011
Jumat, 04 Maret 2011
pasangan dan tanyaku
Teruntuk saudara-saudariku di bumi allah…………
Jatuh cinta. Pasangan. Pria. Wanita. Hubungan. Komitmen. Pacaran. Ta'aruf. Menikah. Keluarga. Suka. Ibadah. Niat. Amal.
Semuanya misteri.
***
Aku sedang berdiri menyusuri lantai rumah sakit ketika itu. Sesosok manusia berjalan menghampiriku. Wajah yang ku kenal.Tak ada yang aneh pada penampilannya, tapi yang membuatku terbelalak bukan itu. Dia datang membawa sebuah kabar yang tak biasa : si **w** dan ***m** punya pacar!
Sejujurnya, kabar ini sangat biasa kudengar di sekelilingku. Toh, apa anehnya seseorang punya pacar? biasa2 aja kan? Nothing special. Tapi ini tak biasa karena dia pelakunya. Dia yang ku kenal. Saudaraku. Bukan orang lain.
Begitu juga malam ini. Aku membuka facebook dan tiba2 terpampanglah sebuah foto dua orang saudaraku yang tengah berfoto berdua, bersebelahan, laki2 dan perempuan yang semuanya adalah makhluk yang satu spesies denganku. Aku tak dapat menahan impuls syaraf keterkejutanku sambil berteriak dalam hati "ada apa ini??? Kenapa mendadak semuanya begitu?"
Huuff..!!!!!
Fakta ini membuat ku berpikir banyak. Sebenarnya apa sih status pacaran? Halalkah? Mungkin, bisa jadi iya... kalau tidak, Kenapa mereka yang notabene selama ini lurus dan tak neko2 mendadak berubah pikiran?
Aku tak ingin medebat siapa2. Usia memang menjadi tantangan terberat saat ini. Saat puncak kematangan fisiologis berada dalam titik kulminasi. Saat ketertarikan mencengkram. Saat status mulai mendekati masa mandiri dan lepas dari orang tua, usia menjadi alasan yang tepat untuk mencari pasangan. Lah, kalo gak sekarang kan kapan lagi?? Jangan2 nanti ketuaan.. ntar gak ketemu jodoh lhooo…. (eh, bukannya jodoh itu udah ditentukan siapa n kapan bakal ketemunya ya? Gak tau ah, gelap!)
Apalagi kalau muncul kecemburuan sosial terhadap rekan2 yang sudah lebih dulu melakoni hubungan yang begitu. Kesannya, kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak?? ya gak sih??
Trus kita juga gak ngapa2in kok... jadi gak ada masalah kan???
Meskipun aku beranggapan begitu, rasanya logikaku tak bisa begitu saja diajak kompromi. Ada banyak tanya yang ingin aku lontarkan. Apa mencari pasangan harus selalu melewati fase pacaran? Atas dasar apa? pengenalankah? berapa lama? Apakah mungkin setelah pacaran akan mengenal sang calon pasangan lebih dekat sehingga keputusan untuk menikah bisa lebih mantap? Apa iya kalau pacaran itu dalam rangka mengenal sosok asli pasangan kita? bukan mengenal topeng2 yang mungkin memoles wajah2 kita agar terlihat tampil wah? Trus, apa iya semakin sering bersama akan makin lengket? bukannya semakin sering bersama akan timbul rasa bosan? jika kemudian rasa bosan itu hadir, apakah dia akan mencari orang lain untuk mengobati rasa bosan itu?
maaf ya.. agak sarkastis...
lidah ini mungkin tajam dan menggores. Af1.... gak ada niat apa2…..
Just wanna ask you all…………….
Kita ini sudah punya pasangan masing2 kan ya? Bukankah kita ini dulunya tercipta sepasang? itu artinya siapapun yang berjodoh dengan kita tentu akan cocok dengan kita karena pada dasarnya kita ini tercipta dari satu sanyawa. Lantas pacaran itu fungsinya apa? penjajakan untuk menemukan pasangan, atau sebaliknya mencari pasangan baru yang tepat?
aku tak mengerti.
Kalau memang begitulah cara yang aman, kenapa Rasulullah tak melakukannya? kenapa para sahabat tak menyinggung soal hubungan sebelum pernikahan? kenapa yang tercatat di lembar2 sejarah hanya soal keberanian Ali untuk melamar Fatimah dengan taruhan terima atau ditolak Rasulullah? Kenapa ali menghadap Rasulullah dan bukan mendekati Fatimah dahulu baru kemudian mendekati Rasulullah? Bukannya cara kedua lebih aman dari kemungkinan ditolak ya? tapi kenapa Ali tak melakukannya?
atau kasus pinangan Khadijah untuk Rasulullah? Kenapa Khadijah hanya mengirim Maisarah untuk menyelidiki Rasulullah dan bukannya turun langsung untuk mendekati Rasulullah? Bukankah beliau itu saudagar hebat, wanita tercantik dan akhlak mulia? Kenapa Khadijah malah langsung to the point mengajak Rasulullah menikah lewat pinangan pamannya padahal belum tentu Rasulullah menerima? Bukankah rawan untuk ditolak?
Kenapa kedua orang hebat diatas memilih mempertaruhkan harga diri dengan satu keputusan, dan Bukan menjalin pendekatan dulu, manjalani hubungan dan setelah merasa cocok baru menikah? Apa alasannya? Dan keanpa tidak memilih jalan yang jauh lebih save?
Apakah karena tak terpikirkan sebelumnya? Ataukah karena ada kehormatan lain yang lebih tinggi dari sekedar memilih jalan aman?
Benarkah pilihan ini? Halalkah ini?
Aku terpengkur menatap ubin lantai rumah sakit, mencoba meresapi alasan kenapa saudaraku satu per satu terbelit soal yang satu itu. Apakah mereka sudah menemukan jawab atas tanya2ku ini? Apakah mereka menemukan sumber dalil lain yang belum sempat aku ketahui? Aduh…. Maafkan kebodohanku saudara2ku….. aku memang tak tau apa2……..
Karena itu, tolong, jawab tanyaku saudara2ku.....
karena aku merasa risau dan bingung dalam ketidakmengertianku ini....
Aku takut, suudzonku akan jauh lebih besar dan aku akan kesulitan mencari alasan untuk berfikir bahwa kalian benar.......
Semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita semua...
mengikat hati2 kita dengan aturanNya dan meneguhkan langkah2 kita....
amin.......
dari saudarimu yang selalu mendoakan kebaikan untukmu
cinta, benci dan prasangka
Tidak semua orang akan memahami apa yang kita maksud. Kita juga tidak punya ada hak kita sedikit pun untuk memaksa seseorang untuk memahami kenapa kita berbuat begitu. Seperti seorang ibu. adakalanya seorang anak akan marah dan protes ketika ibunya melarangnya bermain hujan atau main becek-becek tanpa sandal. Atau seorang remaja yang merasa marah dan terkekang ketika bapaknya tidak memperbolehkannya pulang malam2. Tentu saja sang anak akan marah, toh, orang tuanya sudah melanggar privasinya dan seakan tidak percaya padanya. Padahal sang anak sudah besar. sudah saatnya mandiri dan kritis. Tapi, kenapa sih mereka tidak mau mengerti??
Pernah gak nemu kejadian semacam di atas?
Kalo aku pernah. It’s real.
Aku pernah nangis2 sampai hampir 4 semester gara2 disuruh mamaku kuliah di fakultas kedokteran ini. Sudah bertahun2 berjalan, dan aku masih saja menyesali pilihanku. menganggap bodoh diriku yang dulu tidak mampu berontak. Tentu saja rasanya sedih dan berat. Coba bayangkan, kebebasanku dirampas. Pilihanku tidak dihargai. Padahal aku sudah dewasa. Sudah 17 tahun! Itu artinya aku seharusnya dipercaya untuk melakukan apapun yang aku suka, termasuk menentukan aku masuk mana. Ini masa depanku. Ini hidupku!!!! Dan seharusnya tidak ada yang boleh melarangku, termasuk orang tuaku sekalipun.
Aku adalah burung dalam sangkar emas. Sangkarnya cantik, tapi aku tak bebas.
Tahun2 pertama yang ku jalani rasanya seperti neraka. Aku tak bisa fokus, tak punya tujuan dan orientasi. Ya iyalah... aku dipaksa menjalani apa yang tidak aku suka tanpa bisa melawan. Aku sedih. AKU KESAL! AKU MARAH!!!! Rasanya iri dengan teman2ku yang bisa melakukan apapun sepuasnya. Meskipun orang2 menyayangkan sikapku, bilang aku kurang bersyukurlah... gak tau untung lah... dll, aku tetap saja bandel. Kalo dihitung2, air mataku kali satu galon ya… hehehe… Tapi, ya... se-menyesal-apapun aku, aku toh aku tak bisa berbuat apa2.... akhirnya aku cuma bisa pasrah deh.... T.T
Tapi, seperti kata pepatah, witing tresno, jalaran sako kulino. Cinta datang karena terbiasa. (karena aku bukan orang jawa, jadi kalo salah EYD-nya, tolong dikasih tau ya...^^). Begitulah... Lambat laun aku mulai terbiasa dengan jadwal-jadwal sibuk yang dulu tak ku kenal, terbiasa nge-date bareng sobotta n guyton, dua textbook yang gedenya sebesar bantal tiap kali dapet LI, juga terbiasa dengan jadwal2 sibuk tak jelas. Kalau dulu ke kampus tuh identik dengan "ya allah.... keknya aku perlu cari sesuatu buat ganjel mata d...", sekarang ada yang beda.... Rasanya lebih semangat buat nanya2 dikit. Soalnya, yah... dari pada ngantuk, gak ngerti juga, mendingan cari tau, minimal aku tau judul slidenya deh. Kalo sebelumnya, beww… paraaahhhh…….!!! Seringnya pas ditengah2 kuliah aku bingung, sebenernya dosen ni lagi ngomongin apa sih??? Udah aku gak ngerti, Gak minat lagi! Akibatnya, pulang kuliah gak tau deh, tadi judul slidenya apaan :) .
Karena gak minat kuliah, aku mulai melirik organisasi. Mulailah waktu2ku tergadai. Lumayan, kalo nilai ku kecil, aku jadi punya dalih sibuk organisasi, hehehe… tapi, efeknya aku jadi ketagihan. Banyak kenal orang2 baru, bertemu hal2 yang menyenangkan lainnya. It’s so fun babe!
Perubahan laennya adalah aku juga jadi semangat bisnis jualan pulsa. Ke kampus juga jadi sedikit lebih menyenangkan karena tiap hari nagih duit pulsa, hehehehe... serasa jadi juragan ! (kepada para customer-ku tersayang, terima kasih ya, karena sudah membuat hidupku lebih berwarna..:))
Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, kuliah ku tak buruk2 amat. Tak semua hal yang kuanggap buruk itu tak enak. Adakalanya, kesulitan tadi justru bisa berubah jadi lebih menyenangkan :)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah SAW. bersabda:
“Cintailah sesuatu sekedarnya saja sebab bisa jadi suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah sesuatu sekadarnya saja sebab bisa jadi suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang aku cintai”
(HR. Tirmidzi)
Sekarang aku sudah ko-ass. Dan baru kusadari, pilihan mamaku bertahun2 yang lalu itu tidak salah. Gara2 di FK inilah aku bisa ikut2 kalo ada kerja2 sosial. Lebih mengenal bagaimana caranya komunikasi, lebih peka dan peduli. Bisa mengenal islam lebih baik, juga bertemu saudara2 terbaikku sekarang ini. Semangat penuh. Rasanya pengen berbuat lebih untuk dunia dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Dan semua ini mungkin takkan pernah aku rasakan jika aku tak menjejakkan kaki di sini. Di FK UNSRI-ku tercinta ini.
Oke, air mataku mungkin sudah tertumpah bergalon2, tapi, tak apa... toh, air mata bisa diproduksi lagi there’s no regret. Aku juga tau, “pemaksaan” yang dilakukan mama-ku dulu bukan apa2. Hanya sebatas luapan cinta agar aku bisa lebih baik. Seperti obat, pahit sih... tapi menyembuhkan ^_^ Aku bersyukur dengan semuanya. Dengan paksaan mamaku, juga pilihan2 yang aku ambil.
“....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216)
***
Well, sekali lagi, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mengerti apa yang kita maksudkan. Seperti mamaku, terkadang tindakan kita yang bermaksud baik malah sebaliknya terinterpretasi sebagai tindakan buruk. Padahal mamaku tak bermaksud memaksakan hal2 aneh kan ya? Tapi, kalau dalam versi-ku, mamaku adalah tokoh antagonis. Hahaha... Maaf yo ma... banyak dikatoi ^_^
Tapi, biarlah, seperti sabarnya mamaku, seperti diamnya mamaku... biarlah waktu yang akan menguraikan maksud di balik tindakan2 kita. Mungkin cukup Allah saja yang mengerti maksud kita sekarang. Biarlah suatu saat tabir2 rahasia terbuka sendirinya. Semoga saja suatu saja orang2 yang kita sayangi, siapapun dia, menyadari makna dibalik semua tindakan kita. Bahwa yang kita inginkan hanya kebaikan untuknya, bukan mengharap imbalan apapun darinya, meski dengan resiko berat menjadi seseorang yang dibenci, tak masalah....
Tetaplah menyebar cinta saudara2ku, meski sekarang kau mungkin lelah dengan semua prasangka di hadapanmu. Biarlah Allah saja yang menilai semuanya. Semoga kesabaran kita berbuah pahala. Keep our heart in touch :)
Pernah gak nemu kejadian semacam di atas?
Kalo aku pernah. It’s real.
Aku pernah nangis2 sampai hampir 4 semester gara2 disuruh mamaku kuliah di fakultas kedokteran ini. Sudah bertahun2 berjalan, dan aku masih saja menyesali pilihanku. menganggap bodoh diriku yang dulu tidak mampu berontak. Tentu saja rasanya sedih dan berat. Coba bayangkan, kebebasanku dirampas. Pilihanku tidak dihargai. Padahal aku sudah dewasa. Sudah 17 tahun! Itu artinya aku seharusnya dipercaya untuk melakukan apapun yang aku suka, termasuk menentukan aku masuk mana. Ini masa depanku. Ini hidupku!!!! Dan seharusnya tidak ada yang boleh melarangku, termasuk orang tuaku sekalipun.
Aku adalah burung dalam sangkar emas. Sangkarnya cantik, tapi aku tak bebas.
Tahun2 pertama yang ku jalani rasanya seperti neraka. Aku tak bisa fokus, tak punya tujuan dan orientasi. Ya iyalah... aku dipaksa menjalani apa yang tidak aku suka tanpa bisa melawan. Aku sedih. AKU KESAL! AKU MARAH!!!! Rasanya iri dengan teman2ku yang bisa melakukan apapun sepuasnya. Meskipun orang2 menyayangkan sikapku, bilang aku kurang bersyukurlah... gak tau untung lah... dll, aku tetap saja bandel. Kalo dihitung2, air mataku kali satu galon ya… hehehe… Tapi, ya... se-menyesal-apapun aku, aku toh aku tak bisa berbuat apa2.... akhirnya aku cuma bisa pasrah deh.... T.T
Tapi, seperti kata pepatah, witing tresno, jalaran sako kulino. Cinta datang karena terbiasa. (karena aku bukan orang jawa, jadi kalo salah EYD-nya, tolong dikasih tau ya...^^). Begitulah... Lambat laun aku mulai terbiasa dengan jadwal-jadwal sibuk yang dulu tak ku kenal, terbiasa nge-date bareng sobotta n guyton, dua textbook yang gedenya sebesar bantal tiap kali dapet LI, juga terbiasa dengan jadwal2 sibuk tak jelas. Kalau dulu ke kampus tuh identik dengan "ya allah.... keknya aku perlu cari sesuatu buat ganjel mata d...", sekarang ada yang beda.... Rasanya lebih semangat buat nanya2 dikit. Soalnya, yah... dari pada ngantuk, gak ngerti juga, mendingan cari tau, minimal aku tau judul slidenya deh. Kalo sebelumnya, beww… paraaahhhh…….!!! Seringnya pas ditengah2 kuliah aku bingung, sebenernya dosen ni lagi ngomongin apa sih??? Udah aku gak ngerti, Gak minat lagi! Akibatnya, pulang kuliah gak tau deh, tadi judul slidenya apaan :) .
Karena gak minat kuliah, aku mulai melirik organisasi. Mulailah waktu2ku tergadai. Lumayan, kalo nilai ku kecil, aku jadi punya dalih sibuk organisasi, hehehe… tapi, efeknya aku jadi ketagihan. Banyak kenal orang2 baru, bertemu hal2 yang menyenangkan lainnya. It’s so fun babe!
Perubahan laennya adalah aku juga jadi semangat bisnis jualan pulsa. Ke kampus juga jadi sedikit lebih menyenangkan karena tiap hari nagih duit pulsa, hehehehe... serasa jadi juragan ! (kepada para customer-ku tersayang, terima kasih ya, karena sudah membuat hidupku lebih berwarna..:))
Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan, kuliah ku tak buruk2 amat. Tak semua hal yang kuanggap buruk itu tak enak. Adakalanya, kesulitan tadi justru bisa berubah jadi lebih menyenangkan :)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, Rasulullah SAW. bersabda:
“Cintailah sesuatu sekedarnya saja sebab bisa jadi suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah sesuatu sekadarnya saja sebab bisa jadi suatu hari nanti dia akan menjadi orang yang aku cintai”
(HR. Tirmidzi)
Sekarang aku sudah ko-ass. Dan baru kusadari, pilihan mamaku bertahun2 yang lalu itu tidak salah. Gara2 di FK inilah aku bisa ikut2 kalo ada kerja2 sosial. Lebih mengenal bagaimana caranya komunikasi, lebih peka dan peduli. Bisa mengenal islam lebih baik, juga bertemu saudara2 terbaikku sekarang ini. Semangat penuh. Rasanya pengen berbuat lebih untuk dunia dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Dan semua ini mungkin takkan pernah aku rasakan jika aku tak menjejakkan kaki di sini. Di FK UNSRI-ku tercinta ini.
Oke, air mataku mungkin sudah tertumpah bergalon2, tapi, tak apa... toh, air mata bisa diproduksi lagi there’s no regret. Aku juga tau, “pemaksaan” yang dilakukan mama-ku dulu bukan apa2. Hanya sebatas luapan cinta agar aku bisa lebih baik. Seperti obat, pahit sih... tapi menyembuhkan ^_^ Aku bersyukur dengan semuanya. Dengan paksaan mamaku, juga pilihan2 yang aku ambil.
“....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216)
***
Well, sekali lagi, kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mengerti apa yang kita maksudkan. Seperti mamaku, terkadang tindakan kita yang bermaksud baik malah sebaliknya terinterpretasi sebagai tindakan buruk. Padahal mamaku tak bermaksud memaksakan hal2 aneh kan ya? Tapi, kalau dalam versi-ku, mamaku adalah tokoh antagonis. Hahaha... Maaf yo ma... banyak dikatoi ^_^
Tapi, biarlah, seperti sabarnya mamaku, seperti diamnya mamaku... biarlah waktu yang akan menguraikan maksud di balik tindakan2 kita. Mungkin cukup Allah saja yang mengerti maksud kita sekarang. Biarlah suatu saat tabir2 rahasia terbuka sendirinya. Semoga saja suatu saja orang2 yang kita sayangi, siapapun dia, menyadari makna dibalik semua tindakan kita. Bahwa yang kita inginkan hanya kebaikan untuknya, bukan mengharap imbalan apapun darinya, meski dengan resiko berat menjadi seseorang yang dibenci, tak masalah....
Tetaplah menyebar cinta saudara2ku, meski sekarang kau mungkin lelah dengan semua prasangka di hadapanmu. Biarlah Allah saja yang menilai semuanya. Semoga kesabaran kita berbuah pahala. Keep our heart in touch :)
Sabtu, 19 Februari 2011
trapped to the past
Kita seringkali terperangkap dalam masa lalu meskipun tanpa kita sadari, entah itu tentang euforia masa lalu ataupun kesedihan yang mengintil kemana pun kita pergi. Waktu sepertinya terhenti. Kita hidup di jaman yang berbeda, tapi rasanya masa lalu itu benar2 dekat, menyapa kita, bahkan membuai kita.
Saya juga begitu. Kemaren, kemaren sebelumnya, bahkan sejak bertahun2 yang lalu ternyata bayang masa lalu itu begitu sering membekap aksi saya, bahkan tanpa saya sadari. Sekarang, saya sudah mahasiswa tingkat akhir di fakultas kedokteran. Tapi, anehnya, saya masih saya sering membandingkan kehidupan saya sekarang ini dengan apa yang saya alami waktu smp di pondok dulu. Rasanya saya sekarang berubah. Jadi lebih terbuka, gak canggung lagi, gak diem2an lagi, lebih santai, dan gak sekalem waktu saya smp dulu (hehehe.. :)). Kadang2 malah terselip keinginan untuk jadi seperti dulu.... Kangeeen...
Karena itulah, saya sering maen ke sekolah saya dulu. Yah.. Cuma pengen ngobatin rasa kangen tadi sih... pengen sharing, sekedar say ‘hai’ n tanya2 kabar temen2 seperjuangan saya dulu. Pengen ketawa bareng lagi... Jauh2 gak papa deh... saya sempatkan kok... :)
Tapi, anda tau apa yang saya temukan?
Yah.. benar...
saya tidak menemukan apa yang saya cari.
Semuanya beda. Keramaian itu sama, tapi isinya tidak lagi sama. Tidak ada lagi teman2 yang sama. Tidak ada lagi canda tawa yang sama. Bahkan, bentuk bangunannya pun sudah berubah. Padahal, rasanya saya belum lama meninggalkan tempat ini. Baru sekitar 7 tahun saja. Bahkan saya bisa mengingat dengan detail letak bangunannya dulu, bagaimana wajah teman2, apa yang kami lakukan dan seterusnya. Waduh, beneran kecewa deh.. rasanya gimanaaa.. gituuu... udah ngebet tapi gak ketemu. Saking ngebetnya, Kalo seandainya doraemon tinggal di 7 Ulu, mungkin saya pinjem deh mesin waktunya.... Tapi, tentu saja doraemon gak tinggal di 7 Ulu. Dan karena itu pula saya tetep gak ketemu orang2 yang saya kangenin itu...
Saya cugak! Saya pingin ketemu semuanya sekarang! Sekaraaaang!!!! >.< (ngambek)
Tapi, Ternyata saya harus puas menemui rekan2 yang saya kangeni itu hanya dalam angan saya saja.
Itulah hebatnya waktu. Hanya meninggalkan kenangan untuk kita.
Selalu pergi menjauh, dan takkan pernah kembali lagi.
***
Kadang2, masa lalu menyapa kita dengan cara lain.
Saya sering banget menemukan teman2 yang drop semangatnya. Padahal mereka ini angkatan baru di fakultas saya. Sama seperti saya, mereka ini merasa gak nyaman dengan kondisi sekarang. Dulu, mereka ini jagoan, biasanya selalu jadi si nomor satu di tempat asalnya masing2 meski gak terlalu berusaha mati2an. Tapi, semenjak berada di posisi sekarang, rasanya ada yang berubah. Semangat jadi kendor. Nilai juga pas2an. Gak jadi top scorer lagi. Timbul rasa minder dengan rekan lain yang kelihatan lebih “cling!” di banding kita. Entahlah... dalam otak mendadak tertulis “males ah... keknya aku gak sebaik mereka deh” ato “aduh.... kok aku rada ketinggalan di banding temen2 yang laen yah? Kok aku rasanya jadi mundur yah sekarang??”
Dari sinilah timbul rasa kangen dengan masa lalu. Ada keinginan untuk kembali berada di puncak karier di masa keemasan dulu. Tapi, Cuma pingin aja... Semangat tetep drop. Walhasil, keadaan jadi tak menentu. Nilai tetep drop dan si pelaku jadi tambah menyalahkan diri sendiri. Akhirnya, yah... nothing to do, stress iya... Yang gawat itu kalo pada akhirnya si pelaku jadi depresi. Kerjaan jadi gak beres dan timbul sindrom membenci diri sendiri. Ngerasa “ini bukan dirikuuu.... aku kotor! AKU KOTORR!!!” :)
***
Nah... apa anda punya cerita yang sama?
Pernahkah anda merasa dahulu lebih baik, jadi anda pingin kembali saja ke masa lalu dan meninggalkan apa yang anda hadapi sekarang begitu saja?
Lalu, apa yang anda lakukan waktu itu?
Sejujurnya, saya sebetulnya benar2 menikmati masa lalu tadi, seakan2 itu adalah bagian dari masa sekarang dan masa depan saya juga. Patokan saya adalah menjadi seperti dulu
i> dengan usaha yang sama dan dalam tempo yang sesingkat2nya. Tapi, belakangan ini saya baru tersadar. Saya salah. Mungkin kita memang tidak puas dengan kondisi kita sekarang, dan merasa dulu itu jauh lebih baik. Tapi, kita tidak bisa diam saja lalu menikmati euforia masa lalu. Zaman sudah berubah. Kondisi kita sekarang beda dengan masa lalu. Kita sekarang memang sudah bukan lagi seseorang yang dulu. Situasi sekarang berubah. Tantangan yang kita hadapi berubah. Kesulitan yang kita hadapi juga makin meningkat grade-nya. Dan kedewasaan diri kita juga bertambah. Itu yang kemudian menciptakan perbedaan tindakan apa yang kita ambil sekarang. Dan tentu saja hasilnya juga beda.
Untuk mencapai posisi yang sama dengan masa lalu tentu juga tidak mudah. Usaha yang persis sama dengan masa lalu tidak selamanya menghasilkan hasil yang sama kalau kondisi lingkungannya berubah. Dan kita tidak bisa membandingkan kondisi kita sekarang dengan kondisi masa lalu, menjudge yang dulu lebih baik lantas terpuruk.
NO...
Waktu kita adalah sekarang!
Cukup memikirkan masa lalu.
Masa lalu itu hanya ibarat spion. Hanya kita lihat sesekali saja.
Apa jadinya jika supir terus-menerus melihat spion tanpa memperhatikan jalan yang ditempuhnya?
Kita boleh kok berkaca dengan masa lalu untuk menentukan sejauh apa target kita atau menilai kemungkinan kesalahan2 kita dari pengalaman masa lalu. Tapi, stop! Jangan terlena dengan masa lalu. Jangan tertipu dengan pikiran “ kalo dulu sih... aku tu ya.. bla, bla, bla...” lalu sekarang menerapkan cara yang sama, lantas hasilnya sama. Belum tentu!
Berhentilah berangan2 bahwa kita ingin situasi yang sama seperti dulu dengan cara yang sama tanpa ada perbaikan strategi. Karena kondisi kita beda. Dibutuhkan strategi yang jauh lebih matang dan terencana untuk menghadapi tantangan sekarang. Ini saat2 transisi kita. Apakah kita sukses lebih baik dari masa lalu atau bahkan jauh lebih buruk? Sukses menghadapi masa transisi ini atau terduduk pasrah dikungkung bayangan masa lalu?
Tutup lembaran masa lalu anda. Hari ini adalah halaman baru catatan amal anda. Anda punya hak penuh untuk menentukan apa yang akan anda lakukan hari ini tanpa gangguan bayang2 ilusi masa lalu. Fokus dengan target2 kita, tatap lurus ke depan. Lalu... Wusshh!!!! Tangkap target itu dengan ikhtiar terbaik kita.
Keep moving forward guys...
Sekarang adalah masa lalu dari masa depan. Kalau kita melalaikan hari ini, apa yang hendak kita kenang di masa depan?
Bertahanlah mengahadapi kesulitan dan tantangan di saat transisi ini. Penyesalan hanya terjadi untuk hal2 yang tidak pernah kita lakukan. Penyesalan akan berbanding lurus terhadap pilihan2 yang dulu kita abaikan. Kenapa dulu diam2 saja dan tidak mengubah? Kenapa dulu pasrah mengenang masa lalu bukan produktif mengejar masa depan? Kenapa dulu cuma sibuk memandang kagum pada orang2 hebat di sekeliling kita, bukannya menjadikan diri kita sehebat orang2 di sekeliling kita? Dan kenapa2 lainnya....
Jadi, sebelum kita semua menyesal, BERGERAKLAH!!!
Agar suatu saat di masa depan, kita hanya akan tersenyum karena mimpi2 yang kita perjuangkan hari ini menyapa kita di alam nyata.
Lakukan saja yang terbaik hari ini.
Let say good bye to the past and also welcome to the future
Okeh?!
Fajar di kamarku, 19 Feb 2011, 01.24 WIB
Saya juga begitu. Kemaren, kemaren sebelumnya, bahkan sejak bertahun2 yang lalu ternyata bayang masa lalu itu begitu sering membekap aksi saya, bahkan tanpa saya sadari. Sekarang, saya sudah mahasiswa tingkat akhir di fakultas kedokteran. Tapi, anehnya, saya masih saya sering membandingkan kehidupan saya sekarang ini dengan apa yang saya alami waktu smp di pondok dulu. Rasanya saya sekarang berubah. Jadi lebih terbuka, gak canggung lagi, gak diem2an lagi, lebih santai, dan gak sekalem waktu saya smp dulu (hehehe.. :)). Kadang2 malah terselip keinginan untuk jadi seperti dulu.... Kangeeen...
Karena itulah, saya sering maen ke sekolah saya dulu. Yah.. Cuma pengen ngobatin rasa kangen tadi sih... pengen sharing, sekedar say ‘hai’ n tanya2 kabar temen2 seperjuangan saya dulu. Pengen ketawa bareng lagi... Jauh2 gak papa deh... saya sempatkan kok... :)
Tapi, anda tau apa yang saya temukan?
Yah.. benar...
saya tidak menemukan apa yang saya cari.
Semuanya beda. Keramaian itu sama, tapi isinya tidak lagi sama. Tidak ada lagi teman2 yang sama. Tidak ada lagi canda tawa yang sama. Bahkan, bentuk bangunannya pun sudah berubah. Padahal, rasanya saya belum lama meninggalkan tempat ini. Baru sekitar 7 tahun saja. Bahkan saya bisa mengingat dengan detail letak bangunannya dulu, bagaimana wajah teman2, apa yang kami lakukan dan seterusnya. Waduh, beneran kecewa deh.. rasanya gimanaaa.. gituuu... udah ngebet tapi gak ketemu. Saking ngebetnya, Kalo seandainya doraemon tinggal di 7 Ulu, mungkin saya pinjem deh mesin waktunya.... Tapi, tentu saja doraemon gak tinggal di 7 Ulu. Dan karena itu pula saya tetep gak ketemu orang2 yang saya kangenin itu...
Saya cugak! Saya pingin ketemu semuanya sekarang! Sekaraaaang!!!! >.< (ngambek)
Tapi, Ternyata saya harus puas menemui rekan2 yang saya kangeni itu hanya dalam angan saya saja.
Itulah hebatnya waktu. Hanya meninggalkan kenangan untuk kita.
Selalu pergi menjauh, dan takkan pernah kembali lagi.
***
Kadang2, masa lalu menyapa kita dengan cara lain.
Saya sering banget menemukan teman2 yang drop semangatnya. Padahal mereka ini angkatan baru di fakultas saya. Sama seperti saya, mereka ini merasa gak nyaman dengan kondisi sekarang. Dulu, mereka ini jagoan, biasanya selalu jadi si nomor satu di tempat asalnya masing2 meski gak terlalu berusaha mati2an. Tapi, semenjak berada di posisi sekarang, rasanya ada yang berubah. Semangat jadi kendor. Nilai juga pas2an. Gak jadi top scorer lagi. Timbul rasa minder dengan rekan lain yang kelihatan lebih “cling!” di banding kita. Entahlah... dalam otak mendadak tertulis “males ah... keknya aku gak sebaik mereka deh” ato “aduh.... kok aku rada ketinggalan di banding temen2 yang laen yah? Kok aku rasanya jadi mundur yah sekarang??”
Dari sinilah timbul rasa kangen dengan masa lalu. Ada keinginan untuk kembali berada di puncak karier di masa keemasan dulu. Tapi, Cuma pingin aja... Semangat tetep drop. Walhasil, keadaan jadi tak menentu. Nilai tetep drop dan si pelaku jadi tambah menyalahkan diri sendiri. Akhirnya, yah... nothing to do, stress iya... Yang gawat itu kalo pada akhirnya si pelaku jadi depresi. Kerjaan jadi gak beres dan timbul sindrom membenci diri sendiri. Ngerasa “ini bukan dirikuuu.... aku kotor! AKU KOTORR!!!” :)
***
Nah... apa anda punya cerita yang sama?
Pernahkah anda merasa dahulu lebih baik, jadi anda pingin kembali saja ke masa lalu dan meninggalkan apa yang anda hadapi sekarang begitu saja?
Lalu, apa yang anda lakukan waktu itu?
Sejujurnya, saya sebetulnya benar2 menikmati masa lalu tadi, seakan2 itu adalah bagian dari masa sekarang dan masa depan saya juga. Patokan saya adalah menjadi seperti dulu
i> dengan usaha yang sama dan dalam tempo yang sesingkat2nya. Tapi, belakangan ini saya baru tersadar. Saya salah. Mungkin kita memang tidak puas dengan kondisi kita sekarang, dan merasa dulu itu jauh lebih baik. Tapi, kita tidak bisa diam saja lalu menikmati euforia masa lalu. Zaman sudah berubah. Kondisi kita sekarang beda dengan masa lalu. Kita sekarang memang sudah bukan lagi seseorang yang dulu. Situasi sekarang berubah. Tantangan yang kita hadapi berubah. Kesulitan yang kita hadapi juga makin meningkat grade-nya. Dan kedewasaan diri kita juga bertambah. Itu yang kemudian menciptakan perbedaan tindakan apa yang kita ambil sekarang. Dan tentu saja hasilnya juga beda.
Untuk mencapai posisi yang sama dengan masa lalu tentu juga tidak mudah. Usaha yang persis sama dengan masa lalu tidak selamanya menghasilkan hasil yang sama kalau kondisi lingkungannya berubah. Dan kita tidak bisa membandingkan kondisi kita sekarang dengan kondisi masa lalu, menjudge yang dulu lebih baik lantas terpuruk.
NO...
Waktu kita adalah sekarang!
Cukup memikirkan masa lalu.
Masa lalu itu hanya ibarat spion. Hanya kita lihat sesekali saja.
Apa jadinya jika supir terus-menerus melihat spion tanpa memperhatikan jalan yang ditempuhnya?
Kita boleh kok berkaca dengan masa lalu untuk menentukan sejauh apa target kita atau menilai kemungkinan kesalahan2 kita dari pengalaman masa lalu. Tapi, stop! Jangan terlena dengan masa lalu. Jangan tertipu dengan pikiran “ kalo dulu sih... aku tu ya.. bla, bla, bla...” lalu sekarang menerapkan cara yang sama, lantas hasilnya sama. Belum tentu!
Berhentilah berangan2 bahwa kita ingin situasi yang sama seperti dulu dengan cara yang sama tanpa ada perbaikan strategi. Karena kondisi kita beda. Dibutuhkan strategi yang jauh lebih matang dan terencana untuk menghadapi tantangan sekarang. Ini saat2 transisi kita. Apakah kita sukses lebih baik dari masa lalu atau bahkan jauh lebih buruk? Sukses menghadapi masa transisi ini atau terduduk pasrah dikungkung bayangan masa lalu?
Tutup lembaran masa lalu anda. Hari ini adalah halaman baru catatan amal anda. Anda punya hak penuh untuk menentukan apa yang akan anda lakukan hari ini tanpa gangguan bayang2 ilusi masa lalu. Fokus dengan target2 kita, tatap lurus ke depan. Lalu... Wusshh!!!! Tangkap target itu dengan ikhtiar terbaik kita.
Keep moving forward guys...
Sekarang adalah masa lalu dari masa depan. Kalau kita melalaikan hari ini, apa yang hendak kita kenang di masa depan?
Bertahanlah mengahadapi kesulitan dan tantangan di saat transisi ini. Penyesalan hanya terjadi untuk hal2 yang tidak pernah kita lakukan. Penyesalan akan berbanding lurus terhadap pilihan2 yang dulu kita abaikan. Kenapa dulu diam2 saja dan tidak mengubah? Kenapa dulu pasrah mengenang masa lalu bukan produktif mengejar masa depan? Kenapa dulu cuma sibuk memandang kagum pada orang2 hebat di sekeliling kita, bukannya menjadikan diri kita sehebat orang2 di sekeliling kita? Dan kenapa2 lainnya....
Jadi, sebelum kita semua menyesal, BERGERAKLAH!!!
Agar suatu saat di masa depan, kita hanya akan tersenyum karena mimpi2 yang kita perjuangkan hari ini menyapa kita di alam nyata.
Lakukan saja yang terbaik hari ini.
Let say good bye to the past and also welcome to the future
Okeh?!
Fajar di kamarku, 19 Feb 2011, 01.24 WIB
Jumat, 18 Februari 2011
½ berisi, ½ kosong...
7 November 2010
Ini bukan lagi promosi buku y..... Soalnya saya juga belum pernah baca bukunya.... Tapi kalau ada yang punya bukunya dan mau minjemin gratis, gak papa.... Saya terima dengan ikhlassss......^^
Okeh, kembali ke jalan yang benar....
Rekan2, coba bayangkan, anda tengah menatap gelas yang terisi setengahnya. Saya pingin tahu, menurut anda, gelas itu setengah penuh atau setengah kosong?
Sebagian orang mungkin akan menganggap gelas itu setengah berisi, Sedangkan sisanya mungkin menganggap setengah kosong. Kenapa berbeda? karena menurut “golongan setengah berisi”, seharusnya gelas itu kosong, sedangkan “golongan setengah kosong” mungkin berasumsi bahwa seharusnya gelas itu berisi. (dalam hal ini kita mengabaikan fakta adanya orang2 yang hobi golput dan bersemedi diam2^^ Anggap saja kita semua berani berpendapat).
Lihat, kedua kelompok ini berada dalam posisi berlawanan. Satu kosong satu berisi. Tapi ajaibnya, kedua anggapan mereka benar dalam waktu bersamaan.
Anda pasti pernah melihat uang logam pecahan Rp.50,- kann?? Bagi yang pernah mengalami masa kecil di tahun 90-an, tentu tak asing dengan uang koin yang biasa dipakai buat jajan atau kerokan ini. Nah, jika disebutkan uang logam Rp.50,-, apa yang terbayang dalam benak anda? Lambang burung garuda kah? Atau angka Rp.50,-?
Kedua lambang ini tentu saja berbeda. Tapi, sama seperti kasus diatas, kedua fakta ini terbuki benar. Kedua lambang tadi identik dengan uang koin Rp. 50 meskipun yang satu berada pada sisi kebalikan yang satunya.
Ini menunjukkan bahwa dalam satu situasi bisa saja kedua pendapat yang berbeda pun adalah sama2 benar.
Ingat fakta ini baik2.
Karena terkadang ego kita terlalu dominan sehingga menganggap bahwa pendapat kitalah yang paling benar dan orang yang berbeda pendapat dengan kita pastilah melakukan kesalahan. Sebaliknya, ada orang2 yang takut untuk berpendapat yang agak sedikit berbeda dengan kebanyakan orang karena takut pendapatnya salah (Lha, gimana kita tahu bahwa pendapat kita salah kalau kita tak pernah menyatakan pendapat kita?)
Padahal, adakalanya perbedaan pendapat tercipta manakala kita memandang objek yang sama dari arah yang tidak sama.
Dan sekali lagi, keduanya bisa jadi sama2 benar.
So,kenapa takut untuk bicara? kenapa merasa takut untuk berbeda?
Berbeda bukan berarti salah. Malah bisa jadi artinya, kita bisa menemukan sisi lain dari sebuah topik yang mungkin saking brilian ide tadi sampai2 tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Dan anda hanya menyia2kan ide brilian itu jika anda hanya menyimpannya dalam hati lalu berkarat tanpa arti karena mulut anda terkunci rapi. Padahal mungkin saja jika ide tersebut dilontarkan, orang2 akan berpikir berbeda dan andapun bisa mengubah situasi menjadi lebih baik.
Seandainya pun kemungkinan terburuk terjadi, bahwa anda melakukan kesalahan, apa kemungkinan efek terburuk yang terjadi?
Calm babe, anda tidak akan dicap sebagai orang paling bodoh sedunia. Mungkin akan terjadi kegaduhan sebentar, tapi yakinlah, sebentar kemudian kegaduhan itu sirna dan orang2 tidak akan lagi fokus pada topik tersebut. Simpelnya, coba anda melihat dari kacamata orang lain : Apa yang aneh dari seseorang yang berpendapat kemudian pendapatnya tidak diterima? Apakah penting untuk ditindak lanjuti lebih jauh? So what gitu lho?
Sisi positif lainnya adalah anda tahu bahwa pendapat anda salah, jadi untuk seterusnya anda bisa memperbaikinya. Ini tidak memalukan. Akan lebih parah jika seandainya pendapat anda salah tanpa anda pernah mengetahui bahwa anda salah, bahkan mengajak orang untuk mengikuti cara pandang anda. Selamanya anda akan terjebak pada tindakan yang keliru. Is it true, right?!
Jadi, apa lagi yang membuatmu sungkan untuk bicara dan berpendapat?
BICARALAH, UNGKAPKAN ISI OTAKMU
---------0--- Be Unique ---0----------
“Diam itu emas, tapi bicara adalah berlian” (SBY)
Ini bukan lagi promosi buku y..... Soalnya saya juga belum pernah baca bukunya.... Tapi kalau ada yang punya bukunya dan mau minjemin gratis, gak papa.... Saya terima dengan ikhlassss......^^
Okeh, kembali ke jalan yang benar....
Rekan2, coba bayangkan, anda tengah menatap gelas yang terisi setengahnya. Saya pingin tahu, menurut anda, gelas itu setengah penuh atau setengah kosong?
Sebagian orang mungkin akan menganggap gelas itu setengah berisi, Sedangkan sisanya mungkin menganggap setengah kosong. Kenapa berbeda? karena menurut “golongan setengah berisi”, seharusnya gelas itu kosong, sedangkan “golongan setengah kosong” mungkin berasumsi bahwa seharusnya gelas itu berisi. (dalam hal ini kita mengabaikan fakta adanya orang2 yang hobi golput dan bersemedi diam2^^ Anggap saja kita semua berani berpendapat).
Lihat, kedua kelompok ini berada dalam posisi berlawanan. Satu kosong satu berisi. Tapi ajaibnya, kedua anggapan mereka benar dalam waktu bersamaan.
Anda pasti pernah melihat uang logam pecahan Rp.50,- kann?? Bagi yang pernah mengalami masa kecil di tahun 90-an, tentu tak asing dengan uang koin yang biasa dipakai buat jajan atau kerokan ini. Nah, jika disebutkan uang logam Rp.50,-, apa yang terbayang dalam benak anda? Lambang burung garuda kah? Atau angka Rp.50,-?
Kedua lambang ini tentu saja berbeda. Tapi, sama seperti kasus diatas, kedua fakta ini terbuki benar. Kedua lambang tadi identik dengan uang koin Rp. 50 meskipun yang satu berada pada sisi kebalikan yang satunya.
Ini menunjukkan bahwa dalam satu situasi bisa saja kedua pendapat yang berbeda pun adalah sama2 benar.
Ingat fakta ini baik2.
Karena terkadang ego kita terlalu dominan sehingga menganggap bahwa pendapat kitalah yang paling benar dan orang yang berbeda pendapat dengan kita pastilah melakukan kesalahan. Sebaliknya, ada orang2 yang takut untuk berpendapat yang agak sedikit berbeda dengan kebanyakan orang karena takut pendapatnya salah (Lha, gimana kita tahu bahwa pendapat kita salah kalau kita tak pernah menyatakan pendapat kita?)
Padahal, adakalanya perbedaan pendapat tercipta manakala kita memandang objek yang sama dari arah yang tidak sama.
Dan sekali lagi, keduanya bisa jadi sama2 benar.
So,kenapa takut untuk bicara? kenapa merasa takut untuk berbeda?
Berbeda bukan berarti salah. Malah bisa jadi artinya, kita bisa menemukan sisi lain dari sebuah topik yang mungkin saking brilian ide tadi sampai2 tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Dan anda hanya menyia2kan ide brilian itu jika anda hanya menyimpannya dalam hati lalu berkarat tanpa arti karena mulut anda terkunci rapi. Padahal mungkin saja jika ide tersebut dilontarkan, orang2 akan berpikir berbeda dan andapun bisa mengubah situasi menjadi lebih baik.
Seandainya pun kemungkinan terburuk terjadi, bahwa anda melakukan kesalahan, apa kemungkinan efek terburuk yang terjadi?
Calm babe, anda tidak akan dicap sebagai orang paling bodoh sedunia. Mungkin akan terjadi kegaduhan sebentar, tapi yakinlah, sebentar kemudian kegaduhan itu sirna dan orang2 tidak akan lagi fokus pada topik tersebut. Simpelnya, coba anda melihat dari kacamata orang lain : Apa yang aneh dari seseorang yang berpendapat kemudian pendapatnya tidak diterima? Apakah penting untuk ditindak lanjuti lebih jauh? So what gitu lho?
Sisi positif lainnya adalah anda tahu bahwa pendapat anda salah, jadi untuk seterusnya anda bisa memperbaikinya. Ini tidak memalukan. Akan lebih parah jika seandainya pendapat anda salah tanpa anda pernah mengetahui bahwa anda salah, bahkan mengajak orang untuk mengikuti cara pandang anda. Selamanya anda akan terjebak pada tindakan yang keliru. Is it true, right?!
Jadi, apa lagi yang membuatmu sungkan untuk bicara dan berpendapat?
BICARALAH, UNGKAPKAN ISI OTAKMU
---------0--- Be Unique ---0----------
“Diam itu emas, tapi bicara adalah berlian” (SBY)
Bola Pingpong vs Layang2
Apa bedanya bola pingpong n layang2?
1. bola pingpong bulat, layang2 bentuk trapesium^^
2. layang2 dari kertas, bola pingpong dari plastik
(dan perbedaan2 lain.... Ya iya lah... tidak ada persamaan antara layang2 dan bola pingpong yang terlihat secara fisik^^)
yang paling penting adalah adalah kalau di pantulkan, bola pingpong akan memenuhi persamaan deret ukur, yaitu, pantulan kedua adalah 1/2 kali pantulan pertama. Begitu juga pantulan ketiga akan 1/2 kali pantulan kedua dan seterusnya (wahai para ahli matematika…kalau saya salah, mohon dibenarkan^-^” ). Nah, Dapat kita katakan bahwa bola pingpong (dan juga bola2 lainnya... bola tenis kek, bola bekel kek... whatever!) semakin lama semakin rendah pantulannya ketika menghantam tembok sehingga akhirnya malah berhenti sama sekali.
and now...
what about layang2?
Layang2 tentu saja tidak dipantulkan (of course it is... sangat logis dan fisiologiss...^.^).
Layang2 diterbangkan dengan cara di tarik ulur. ketika angin berhembus, layang2 akan kita tarik, lalu diulur. Tarikan melawan angin ini akan membuat daya dorong yang diterima layang2 semakin kuat sehingga layang2 akan terbang makin tinggi.
Mari kita tarik kesimpulan perbedaan bola pingpong dan layang2 berdasarkan analisis tadi:
1. Bola pingpong yang membentur tanah akan memantul semakin rendah dan kemudian berhenti
2. layang2 yang menantang angin akan terbang semakin tinggi.
Bola pingpong dan layang2 bisa kita ibaratkan sikap kita dalam menjalani hidup. Bola pingpong membentur tanah, layang2 pun menantang angin. Tak ada yang berjalan mulus kan???
Sama seperti hidup kita, tidak ada yang berjalan mulus. Setiap kita pasti punya masalah. Setiap kita punya tantangan dan kendala setiap hari. Bagi A, mungkin itu bukan masalah, tapi bagi B itu masalah besar!
Tak usah diributkan soal besar kecilnya masalah, apakah masalah kita lebih berat dari masalah orang lain di dunia ini atau malah kita merasa menjadi orang paling malang sedunia. Yang penting adalah penyikapan kita terhadap masalah tersebut.
Meskipun dalam AlQuran Allah sudah menjamin bahwa kita semua mampu menghadapi masalah seberat apa pun itu (QS. 2:286), tapi tidak semua orang akan menghadapinya penuh semangat seperti layang2 yang menantang angin. Kadang2 semangat kita akan habis setelah jatuh berkali-kali. Rasa lelah sering kali membuat kita terlalu pesimis untuk bangkit. Layaknya bola pingpong yang membentur tanah.... Mimpi kita perlahan2 mati seiring rintangan yang semakin lama makin berat hingga akhirnya kandas tak tersisa...... sampai akhirnya kita menyerah kalah, tertunduk lesu tak berdaya lagi menantang tembok halangan yang masih tinggi....
dan setelah terjatuh lagi berkali2,
mungkin hanya tinggal tanya dalam benak kita: apakah tidak ada lagi harapan setelah ini..........?
......
STOP!!!
STOOOOOOPPPPPP!!!!!!!!!
Bangkit rekan2 ku!
Apakah kita akan menyerah karena sebuah tembok yang membatasi mimpi kita dengan alam nyata?
Jangan mau menyerah dulu!
Jangan biarkan masalah menertawakan kita.
Jangan biarkan masalah menundukkan kita dan membuat kita jadi bulan-bulanan kecewa dan ragu.
Jangan biarkan luka2 kita menganga tanpa kita mendapat apa2.
Ayo berdiri!!!!
kita boleh jatuh, kita boleh luka.
tapi perjuangan kita hanya boleh berhenti, setelah mimpi kita menjejak alam nyata....
I KNOW U CAN. WE CAN. EVERYONE CAN.
Pilihan ada ditangan kita
Apakah kita akan menjadi manusia bola pingpong atau layang2.
Ketika keberhasilan menghadapi masalah sudah dijanjikan Allah,
kenapa kita lantas berputus asa?!
Ketika kita kemenangan sudah didepan mata,
kenapa langkah kita mesti terhenti gara2 sepotong kata "menyerah"....
Tetaplah di barisan terdepan, rekan2 seperjuanganku...
Masalah kita memang besar, tapi kita punya Allah yang jauh lebih besar.....
SEMANGAAATTTTT!!!!!!!!!!!!!!!
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.....” (QS. 2:286)
Males?? Gak BAnget sih...!!!!
Malas adalah salah satu penyakit yang paling mudah berjangkit. Seperti flu di musim hujan, penyakit malas ini bisa timbul dimana saja, kapan saja, dan menyerang siapa saja. Dan kalau malas ini sudah berjangkit, kadang2 aktivitas jadi terganggu dan menimbulkan masalah2, baik masalah kecil, masalah agak besar, masalah besar, bahkan masalah super-duper-besar!
just 4 example....
masalah kecil : males mandi
paling efeknya jadi rada bau... sekaligus menjadi sumber polusi udara jenis baru... >.< tapi yah... gak masalah ya... paling banter jamuran n menambah hobi baru : garuk2.... ini gak merugikan negara, paling anda sendiri yang terganggu... masalah agak besar : males bersih2 (males cuci piring.... males cuci baju... males bersihin rumah...) selaen berefek jadi gak punya stok baju bersih, piring bersih, n rumah yang bersih, males jenis ini juga akan membuat kuping rada budek. You know why?? gak laen karena orang satu rumah bakal berkicau dengan indahnya.... terutama kalo anda kebetulan adalah seorang anak perempuan pertama, ato bahkan anak perempuan satu2nya di rumah... gak asik yah.. masak tampang keren, cakep, jenius, masih muda, kaya raya, tapi BUDI alias Budek dikit.... masalah besar : males belajar... Sebagai seorang mahasiswa yang baek hati n gak sombong, rajin menabung, hapal undang2 dan menjunjung nama baik sendiri dimanapun berada,kewajiban kita tuh cuma satu yaitu untuk menuntut ilmu setinggi2nya (Hidup Mahasiswa!!!!^^) ya iya lah.. yang kita bawa setelah pendidikan ini bukan cuma selembar ijazah, tapi juga isi otak! tentu saja kalo males belajar, jadinya gak paham sama materi dan menghambat kerja nantinya. Tapi, males jenis ini efeknya besifat kronis alias baru kelihatan dalam jangka waktu lama. efek akutnya sih gak kelihatan ya... soalnya banyak mehasiswa yang menganut aliran "scavengerism"^^ jadi, meskipun rada males, nilai2 pada tetep aman koq, hehehe....Trus, Pasien2 juga gak bakan nanyain : "dok, dulu emang IPK-nya berapa?" kondisi paling naas mungkin ya... seperti ini: seorang pasien datang ke tempat praktek anda. Namun... ketika anda tanya2 dan periksa lebih jauh, anda mulai bingung.. ni sebenernya pasien sakit apa sih?? Pasien tiba2 nanya: "emangnya saya sakit apa dok? trus bisa sembuh gak?" **Oh, My God!** Keringat dingin mulai mengucur. Pasien menunggu jawaban anda, padahal gak ada yang nyangkut di otak anda. Anda berpikir keras... dan sebuah ide brilian timbul. "maaf buk, saya permisi ke toilet sebentar... bentar ya...." sambil menyunggingkan senyum terbaik anda. dan segera... ngacir ke belakang untuk membuka catatan dengan adrenalin berpacu Untung kalo ketemu materinya n diagnosisnya tepat. Anda akan kembali dengan selamat. Kalo gak??? pasien mungkin gak akan kembali ke tempat praktek anda. Lah iya... wong obatnya juga asal2an... gimana mau sembuh? kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda..... Masalah super-duper-besar : males ibadah. Alesannya "tanggung nih..." ato "yah... cuma sunnah juga sih...". Jadi kadang2 dengan sengaja molor2 waktu sholat, jadi nyari2 alesan kalo ditodong buat sedekah, nunda2 tilawah, males qiyamul lail, alesannya lupa ato gak kebangun kalo malem... whatever! Padahal ibadah itu efeknya buat kita sendiri lho. Coba perhatiin deh, kalo ibadah lagi kendor, biasanya bawaan BT, marah2 mulu, gelisah, labil gak jelas gitu, pokoknye seharian mungkin bawaan uring2an.... Kalo anda mengidap gejala2 diatas, coba deh diperiksa lagi... jangan2 emang ibadahnya lagi ngos2an.... Dan celakanya, akibat males ibadah ini gak berhenti disitu. Karena setelah kerugian2 di dunia, pertanggungjawaban masalah ibadah ini pun akan dibawa2 sampe akhirat. Bisa berabe nih urusannya! Rekap-ibadah-nya bisa lama karena ada begitu banyak kesalahan yang dibikin. Jangan2 kloter anda menuju surga pun bisa terhambat gara2 masalah ibadah ini... Naudzubillah... >.< Anyway... Males sebenernya merupakan kondisi fisiologis. Adalah wajar kalo kadang2 semangat kita buat beraktivitas rada ngedrop. Semangat juga seperti kurva sinus, kadang naik, kadang turun. Nah, Biasanya penyebab males ini adalah rasa bosan, target terlalu tinggi, banyak bikin dosa atau malah jeda waktu libur yang terlalu panjang. Tapi, bukan berarti lantas kita jadi melegalkan rasa malas ya... Karena rasa malas ini cenderung merugikan. Coba deh bayangkan, saat anda lagi malas dan tidak melakukan sesuatu apapun, ada ribuan atau bahkan jutaan orang di luar sana yang berusaha meningkatkan produktivitas mereka. Anda lagi guling2 di kasur, baca2 komik, nonton acara gosip.... sementara mereka para pesaing anda membaca buku2 text book, memperluas jaringan, meningkatkan skill, ikut pelatihan, buka bisnis baru, belajar ilmu baru dan laen2. Jadi wajar kalo misalnya ada jutaan orang yang jauh lebih maju dari anda. Ini bukan karena mereka lebih beruntung tapi karena mereka melakukan sasuatu saat anda bahkan belum memikirkannya! Sadarlah rekan2, dengan membiakkan rasa malas dalam tubuh dan pikiran kita, itu artinya kita sudah membiarkan jutaan pesaing kita mencuri start lebih dulu dari kita!!!! lha, yang start nya sama dengan kita pun kesuksesannya belum tentu bisa kita kejar, apalagi yang memang lebih dulu startnya dibanding kita. Halooo.... Jadi, KIBARKAN BENDERA PERANG UNTUK RASA MALAS !!!! kalaupun anda sekarang terjangkiti rasa malas, tenang... coba tips berikut: 1. identifikasi penyebab rasa malas anda. 2. dekati orang2 yang bersemangat, berdoalah supaya anda tertular semangat mereka 3. baca buku2 motivasi 4. tingkatkan kualitas n kuantitas ibadah anda. 5. coba hal2 yang baru. kadang stress juga membuat kita boring dan akhirnya menimbulkan rasa malas. 6. buat target2 kecil yang bisa anda raih sebelum mencapai target besar anda 7. Refreshing! So, Jadikan rasa malas anda seperti saat anda bermain trombolin. Saat main trombolin kita akan jatuh kan... tapi, itu berarti kita akan melompat lebih tinggi lagi. Intinya, Meskipun misalnya anda jatuh dan tidak produktif saat ini, jadikan kesempatan ini untuk menghimpun kekuatan anda untuk bangkit dan lebih aktif lagi. Anda mungkin lemas saat ini, tapi buktikan bahwa anda akan lebih baik lagi setelah ini. Jangan biarkan rasa malas membuat anda terlena. ***BE ACTIVE, BE MORE CREATIVE*** MALES??? GAK BANGET SIH!!!!
just 4 example....
masalah kecil : males mandi
paling efeknya jadi rada bau... sekaligus menjadi sumber polusi udara jenis baru... >.< tapi yah... gak masalah ya... paling banter jamuran n menambah hobi baru : garuk2.... ini gak merugikan negara, paling anda sendiri yang terganggu... masalah agak besar : males bersih2 (males cuci piring.... males cuci baju... males bersihin rumah...) selaen berefek jadi gak punya stok baju bersih, piring bersih, n rumah yang bersih, males jenis ini juga akan membuat kuping rada budek. You know why?? gak laen karena orang satu rumah bakal berkicau dengan indahnya.... terutama kalo anda kebetulan adalah seorang anak perempuan pertama, ato bahkan anak perempuan satu2nya di rumah... gak asik yah.. masak tampang keren, cakep, jenius, masih muda, kaya raya, tapi BUDI alias Budek dikit.... masalah besar : males belajar... Sebagai seorang mahasiswa yang baek hati n gak sombong, rajin menabung, hapal undang2 dan menjunjung nama baik sendiri dimanapun berada,kewajiban kita tuh cuma satu yaitu untuk menuntut ilmu setinggi2nya (Hidup Mahasiswa!!!!^^) ya iya lah.. yang kita bawa setelah pendidikan ini bukan cuma selembar ijazah, tapi juga isi otak! tentu saja kalo males belajar, jadinya gak paham sama materi dan menghambat kerja nantinya. Tapi, males jenis ini efeknya besifat kronis alias baru kelihatan dalam jangka waktu lama. efek akutnya sih gak kelihatan ya... soalnya banyak mehasiswa yang menganut aliran "scavengerism"^^ jadi, meskipun rada males, nilai2 pada tetep aman koq, hehehe....Trus, Pasien2 juga gak bakan nanyain : "dok, dulu emang IPK-nya berapa?" kondisi paling naas mungkin ya... seperti ini: seorang pasien datang ke tempat praktek anda. Namun... ketika anda tanya2 dan periksa lebih jauh, anda mulai bingung.. ni sebenernya pasien sakit apa sih?? Pasien tiba2 nanya: "emangnya saya sakit apa dok? trus bisa sembuh gak?" **Oh, My God!** Keringat dingin mulai mengucur. Pasien menunggu jawaban anda, padahal gak ada yang nyangkut di otak anda. Anda berpikir keras... dan sebuah ide brilian timbul. "maaf buk, saya permisi ke toilet sebentar... bentar ya...." sambil menyunggingkan senyum terbaik anda. dan segera... ngacir ke belakang untuk membuka catatan dengan adrenalin berpacu Untung kalo ketemu materinya n diagnosisnya tepat. Anda akan kembali dengan selamat. Kalo gak??? pasien mungkin gak akan kembali ke tempat praktek anda. Lah iya... wong obatnya juga asal2an... gimana mau sembuh? kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda..... Masalah super-duper-besar : males ibadah. Alesannya "tanggung nih..." ato "yah... cuma sunnah juga sih...". Jadi kadang2 dengan sengaja molor2 waktu sholat, jadi nyari2 alesan kalo ditodong buat sedekah, nunda2 tilawah, males qiyamul lail, alesannya lupa ato gak kebangun kalo malem... whatever! Padahal ibadah itu efeknya buat kita sendiri lho. Coba perhatiin deh, kalo ibadah lagi kendor, biasanya bawaan BT, marah2 mulu, gelisah, labil gak jelas gitu, pokoknye seharian mungkin bawaan uring2an.... Kalo anda mengidap gejala2 diatas, coba deh diperiksa lagi... jangan2 emang ibadahnya lagi ngos2an.... Dan celakanya, akibat males ibadah ini gak berhenti disitu. Karena setelah kerugian2 di dunia, pertanggungjawaban masalah ibadah ini pun akan dibawa2 sampe akhirat. Bisa berabe nih urusannya! Rekap-ibadah-nya bisa lama karena ada begitu banyak kesalahan yang dibikin. Jangan2 kloter anda menuju surga pun bisa terhambat gara2 masalah ibadah ini... Naudzubillah... >.< Anyway... Males sebenernya merupakan kondisi fisiologis. Adalah wajar kalo kadang2 semangat kita buat beraktivitas rada ngedrop. Semangat juga seperti kurva sinus, kadang naik, kadang turun. Nah, Biasanya penyebab males ini adalah rasa bosan, target terlalu tinggi, banyak bikin dosa atau malah jeda waktu libur yang terlalu panjang. Tapi, bukan berarti lantas kita jadi melegalkan rasa malas ya... Karena rasa malas ini cenderung merugikan. Coba deh bayangkan, saat anda lagi malas dan tidak melakukan sesuatu apapun, ada ribuan atau bahkan jutaan orang di luar sana yang berusaha meningkatkan produktivitas mereka. Anda lagi guling2 di kasur, baca2 komik, nonton acara gosip.... sementara mereka para pesaing anda membaca buku2 text book, memperluas jaringan, meningkatkan skill, ikut pelatihan, buka bisnis baru, belajar ilmu baru dan laen2. Jadi wajar kalo misalnya ada jutaan orang yang jauh lebih maju dari anda. Ini bukan karena mereka lebih beruntung tapi karena mereka melakukan sasuatu saat anda bahkan belum memikirkannya! Sadarlah rekan2, dengan membiakkan rasa malas dalam tubuh dan pikiran kita, itu artinya kita sudah membiarkan jutaan pesaing kita mencuri start lebih dulu dari kita!!!! lha, yang start nya sama dengan kita pun kesuksesannya belum tentu bisa kita kejar, apalagi yang memang lebih dulu startnya dibanding kita. Halooo.... Jadi, KIBARKAN BENDERA PERANG UNTUK RASA MALAS !!!! kalaupun anda sekarang terjangkiti rasa malas, tenang... coba tips berikut: 1. identifikasi penyebab rasa malas anda. 2. dekati orang2 yang bersemangat, berdoalah supaya anda tertular semangat mereka 3. baca buku2 motivasi 4. tingkatkan kualitas n kuantitas ibadah anda. 5. coba hal2 yang baru. kadang stress juga membuat kita boring dan akhirnya menimbulkan rasa malas. 6. buat target2 kecil yang bisa anda raih sebelum mencapai target besar anda 7. Refreshing! So, Jadikan rasa malas anda seperti saat anda bermain trombolin. Saat main trombolin kita akan jatuh kan... tapi, itu berarti kita akan melompat lebih tinggi lagi. Intinya, Meskipun misalnya anda jatuh dan tidak produktif saat ini, jadikan kesempatan ini untuk menghimpun kekuatan anda untuk bangkit dan lebih aktif lagi. Anda mungkin lemas saat ini, tapi buktikan bahwa anda akan lebih baik lagi setelah ini. Jangan biarkan rasa malas membuat anda terlena. ***BE ACTIVE, BE MORE CREATIVE*** MALES??? GAK BANGET SIH!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)






